SEJARAH DAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM
“KURIKULUM PENDIDIKAN
ISLAM”
KELOMPOK VI
ANGGOTA
KELOMPOK :
1. Amirul
Mukminin
2. Chusnul
Khotimah
3. Imam
Muslimin
4. Melisa
Wahyu Hidayati
5. Muhammad
Ridwan
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
DIPONEGORO TULUNGAGUNG
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR
Puji
Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat,
taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang
berjudul Kurikulum Pendidikan Islam tepat waktu.
Dalam
penyelesaian Makalah ini, penulis banyak mendapatkan dorongan serta bimbingan
dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin
menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Drs.
H. Imam Asy’ari selaku Dosen mata
kuliah Sejarah
dan Ilmu Pendidikan Islam
2. Semua
pihak yang mendukung dan membantu penyelesaian makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Tak ada gading yang
tak retak sama halnya seperti makalah yang telah kami buat. Oleh karenanya
saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar ........................................................................................... i
Daftar Isi ........................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan
A.
Latar Belakang
1
B.
Rumusan Masalah........................................................................................
2
C.
Tujuan Penulisan..........................................................................................
2
Bab II Pembahasan
A.
Konsep Kurikulum Pendidikan..................................................................... 3
B.
Dasar Kurikulum Pendidikan Islam.............................................................. 5
C.
Prinsip-Prinsip Kurikulum
Pendidikan Islam................................................ 6
D.
Kurikulum
dan Tujuan Pendidikan............................................................... 7
E.
Kerangka Dasar Penyusunan Kurikulum
Pendidikan Islam........................
11
F.
Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum
Pendidikan Islam.................................. 14
Bab III Penutup
A.
Kesimpulan ................................................................................................ 17
B.
Saran ................................................................................................ 17
Daftar Pustaka ................................................................................................ 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai
makhluk yang paling sempurna, karena manusia dianugerahi fitrah, akal, qalb, dan nafs sehingga dengan semua anugerah itu
manusia memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan potensi dirinya dalam
mencapai kesempurnaan sebagai khalifah di bumi. Untuk mencapai kesempurnaan
ini, manusia harus melalui suatu proses atau kegiatan ilmiah yang disebut
dengan pendidikan. Pendidikan Islam yang berfalsafahkan al-Qur’an dan hadis
sebagai sumber utamanya, menjadikan keduanya sebagai sumber utama pula dalam
penyususunan kurikulum.
Dalam pendidikan Islam kurikulum
merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem
pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan
pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada
semua jenis dan tingkat pendidikan.
Salah satu tugas dari filsafat
pendidikan Islam adalah memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan
Islam. Tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai harus direncanakan melalui
kurikulum pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan faktor yang sangat
penting dalam proses pendidikan pada lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian,
akan menjadi jelas dan terencana bagaimana dan apa yang harus diterapkan dalam
proses belajar-mengajar yang dilakukan pendidik dan anak didik.
Dalam kurikulum, tidak hanya
dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik
(guru) kepada anak didik, tetapi juga segala kegiatan yang bersifat
kependidikan yang dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam.
Di samping itu, kurikulum hendaknya
dapat dijadikan ukuran kualitas proses dan keluaran pendidikan sehingga dalam
kurikulum sekolah telah tergambar berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap,
dan nilainilai yang diharapkan dimiliki oleh setiap lulusan sekolah. Kurikulum merupakan salah satu
komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu
kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas, fokus
pembahasan dalam tulisan makalah ialah Kurikulum Pendidikan Islam.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas, penyusun merumuskan rumusan masalah sebagai berikut
1. Apa
pengertian dari Konsep Kurikulum Pendidikan?
2. Bagaimana
Dasar Kurikulum Pendidikan Islam?
3. Bagaimana Prinsip-Prinsip
Kurikulum
Pendidikan Islam?
4. Bagaimana Kurikulum dan Tujuan Pendidikan ?
5. Bagaimana
Kerangka Dasar Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam?
6. Bagaimana
Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam?
C. Tujuan
Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah di
atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan
1. Pengertian
dari Konsep Kurikulum Pendidikan
2. Dasar
Kurikulum Pendidikan Islam
3. Prinsip-Prinsip
Kurikulum
Pendidikan Islam
4. Kurikulum dan Tujuan Pendidikan
5. Kerangka
Dasar Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam
6. Klasifikasi
Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep
Kurikulum Pendidikan
Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani
yaitu curir yang artinya “pelari” dan curene yang berarti “tempat
berpacu”. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga, terutama dalam
bidang atletik pada zaman Romawi Kuno di Yunani. Dalam bahasa Prancis, istilah
kurikulum berasal dari kata courier
yang berarti berlari (to run).
Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari
garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau
penghargaan. Jarak yang harus di tempuh tersebut kemudian diubah menjadi
program sekolah dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Program tersebut
berisi mata pelajaran (courses) yang
harus ditempuh oleh peserta didik selama kurun waktu tertentu, seperti SD/MI
(enam tahun), SMP/MTs (tiga tahun). SMA/MA (tiga tahun) dan seterusnya.
Secara terminologis istilah kurikulum (dalam
pendidikan) adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau
diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah. Tujuan pendidikan
yang ingin dicapai itulah yang menentukan kurikulum dan isi pendidikan yang
diberikan. Selain itu tujuan pendidikan dapat mempengaruhi stategi pemilihan
teknik penyajian pendidikan yang dipergunakan untuk memberikan pengalaman
belajar pada anak didik dalam mencapai tujuanpendidikan yang sudah
dirumuskan. Dengan kurikulum dan isi
pendidikan inilah kegiatan pendidikan itu dapat dilaksanakan secara benar
seperti apa yang telah dirumuskan.
J.G Sailor (1981), merangkum beberapa batasan
mengenai pengertian kurikulum berdasarkan pengertian beberapa ahli diantaranya
Menurut Lewis dan Meil, kurikulum adalah seperangkat bahan pelajaran, rumusan
hasil belajar, penyediaan kesempatan belajar, kewajiaban dan pengalaman peserta
didik. Taba berpendapat bahwa kurikulum tidak peduli bagaimana rancanagan detailnya
dan terdiri atas unsur-unsur tertentu, Ia memberi petunjuk tentang beberapa
pilihan dan susunan isinya. Akibatnya ia memerlukan suatu program
pengevaluasian hasil-hasilnya. Menurut Stratemayer Sc, kurikulum dianggap
sebagai hal yang meliputi bahan pelajaran dan kegiatan kelas yang dilakukan
anak dan pemuda keseluruhan pengalaman di dalam dan di luar sekolah atau kelas
yang disponsori oleh sekolah, dan seluruh pengalaman hidup murid. Adapun
batasan yang diterima pendidikan harus menetapkan ke arah ilmu pengetahuan,
pengertian-pengertian, kecakapan-kecakapan yang manakah pengalaman-pengalaman
yang baru akan dibimbing. Kebijakan ini menentukan scope dari kurikulum
sekolah.
Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan manhaj yang bermakna jalan yang terang
atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya.
Kurikulum pendidikan Islam dari segi bahasa bermakna jalan yang terang yang
dilalui seseorang, baik orang itu guru atau juru latih, atau ayah atau yang
lainnya, meliputi semua unsur-unsur proses pendidikan dan semua unsur-unsur
rencana pendidikan yang di ikuti oleh guru, atau pendidik, atau institusi
pendidikan dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya, meliputi tujuan-tujuan
pendidikan, perkara-perkara kajian, kemestian-kemestian pelajaran dan semua
kegiatan dan alat-alat yang menguatkannya, metode-metode yang digunakan dalam
mengajarkan pelajaran dan melatih murid-murid dan membimbingnya, menjaga
peraturan di antara mereka dan pada pergaulan mereka pada umumnya, dan proses-proses
dan alat-alat penilaian.
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam,
maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk
membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui
akumulasi sejumlah pengetahuan,keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses
pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan,
tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna ( insan kamil
) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan
Islam.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa dalam kurikulum tidak hanya dijabarkan sebagai serangkain ilmu
pengetahuan yang harus di ajarkan oleh pendidik (guru) kepada anak didik dan
anak didik mempelajarinya, akan tetapi segala kegiatan yang bersifat
kependidikan yang dipandang perlu, karena mempunyai pengaruh terhadap anak
didik, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan baik yang bersifat islami maupun
bersifat umum.
B.
Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Yang menjadi dasar dalam penyusunan
kurikulum pendidikan Islam adalah:
1. Dasar agama
Dasar
agama, dalam arti segala system yang ada dalam masyarakat termasuk pendidikan,
harus meletakkan dasar falsafah, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama Islam
dengan segala aspeknya. Dasar agama ini dalam kurikulum pendidikan Islam jelas
harus didasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat
furu’ lainnya.
2. Dasar falsafah
Dasar
ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis sehingga
tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan
hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik
ditinjau dari segi ontology, epistimilogi, maupun axiologi.
3. Dasar psikologis
Dasar
ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri
perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya,
memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perseorangan antara satu
peserta didik dengan lainnya.
4. Dasar social
Dasar
ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada
dasar social yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya.
Baik dari segi pengetahun, nilai-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan,
seni dan sebagainya. Sebab tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan
tidak ada suatu kebudayaan yang tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan
kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar pada
masyarakat dan perubahan dan perkembangan.
5. Dasar organisatoris
Dasar
ini memberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta
penyajiannya dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan dasar di atas, maka
penyusunan sebuah kurikulum pendidikan Islam harus berdasarkan dasar-dasar di
atas: dasar religius memberikan nilai terhadap semua materi yang ada dalam
kurikulum. Dasar filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan.
Sedangkan dasar sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa saja
yang akan di pelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara dasar organisator
berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagimana bahan pelajaran itu
disusun, dan bagaimana penentu luas dan urutan mata pelajaran. Selanjutnya
dasar psikologis berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang
perkembangan peserta didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan
bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai oleh peserta didik sesuai
dengan tahap perkembangannya.
C.
Prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Prinsip-prinsip tersebut
berbeda-beda menurut analisis para ahli. Dalam merumuskan kurikulum pendidikan
Islam penulis ambil pemikiran para ahli tersebut kemudian ditambah dan
disesuaikan dengan esensi kurikulum pendidikan Islam. Prinsip-prinsip tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Prinsip berasaskan Islam termasuk
ajaran dan nilai-nilainya. Maka setiap yang berkaitan dengan kurikulum,
termasuk falsafah, tujuan-tujuan, kandungan-kandungan, metode mengajar,
cara-cara perlakuan, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga
pendidikan harus berdasarkan pada agama dan akhlak Islam.
2. Prinsip mengarah pada tujuan adalah
seluruh aktivitas dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan dan
dirumuskan sebelumnya.
3. Prinsip (integritas) antara mata
pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang terkandung di dalam
kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara kandungan kandungan kurikulum
dengan kebutuhan murid juga kebutuhan masyarakat.
4. Prinsip relevansi adalah adanya
kesesuaian pendidikan dengan lingkungan hidup murid, relevansi dangan kehidupan
masa sekarang dan akan dating, relevansi dengan tuntutan pekerjaan.
5. Prinsip Fleksibilitas adalah
terdapat ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak, baik
yang berorientasi pada Fleksibelitas pemilihan program pendidikan maupun dalam
mengembangkan program pengajaran.
6. Prinsip Integritas adalah kirikulum
tersebut dapat menghasilkan manusia seutuhnya, manusia yang mampu
mengintegrasikan antara fakultas dzikir dan fakultas fikir, serta manusia yang
dapat menyelaraskan struktur kehidupan dunia dan struktur kehidupan akhirat.
7. Prinsip efisiensi adalah agar
kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, dana dan sumber lain secara
cermat tepat, memadai dan dapat memenuhi harapan.
8. Prinsip kontinuitas dan kemitraan
adalah bagaimana susunan kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkelanjutan
dengan kaitan-kaitan kurikulum lainnya, baik secara vertical (perjenjangan,
tahapan) maupun secara horizontal.
9. Prinsip Individualitas adalah
bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan anak pada
umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik, seperti perbedaan
jasmani, watak intelijensi, bakat serta kelebihan dan kekurangannya.
10. Prinsip kesamaan memperoleh
kesempatan, dan demokratis adalah bagaimana kurikulum dapat memperdayakan semua
peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan.
Seluruh peserta didik/santri dari berbagai kelompok seperti kelompok yan kurang
beruntung secara ekonomi dan social yang memerlukan bantuan khusus, berbakat
dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepet sesuai dengan kemampuan dan
kecepatannya.
11. Prinsip kedinamisan adalah agar
kurikulum itu tidak statis, tetapi dapat mengikuti perkembangan ilmu
pengetahuan dan perubahan social
12. Prinsip keseimbangan adalah
bagaimana kurikulum dapat mengembangkan sikap potensi peserta didik secara
harmonis
13. Prinsip efektivitas adalah agar
kurikulum dapat menunjang efektivitas guru yang mengajar dan peserta didik yang
mengajar.
D.
Kurikullum
dan Tujuan Pendidikan
Dalam
Al-Qur’an terdapat bermacam-macam kisah yang berdasarkan tokohnya bisa
dikategorikan sebagai berikut : Pertama, kisah para rasul dan nabi menyangkut
dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang terjadi serta sikap para
penentang kisah-kisah yang berkaitan. Kedua, kisah-kisah yang berkaitan dengan
umat yang terdahulu yang tidak dapat dipastikan kenabiannya, seperti kisah
Thalut, Jalut, dua putranya dan Ashabul Kahfi, dan sebagainya. Ketiga, kisah
yang berkaitan dengan perstiwa yang terjadi di zaman Nabi seperti perang Badar,
Uhud, Hunain dan sebagainya.
Penuturan
kisah-kisah tersebut dalam Al-Qur’an bukan sekedar untuk dihafal, namun
penyampaian tersebut terkait dengan bagaimana metode menyampaikan sinar
petunjuknya. Dalam Al-Qur’an terdapat dua metode yang ditempuh untuk
menyampaikan petunjuk di dalamnya. Pertama, direct
method / thariqah yakni metode langsung dalam bentuk perintah dan larangan.
Kedua, mubasyirah indirect method /
thariqah ghair mubasyirah, yakni metode tidak langsung, diantaranya dengan
melalui kisah, matsal (perumpamaan)
dan ta’ridl (sindiran).
Prof.
Dr. H. Nizar Ali, M.Ag dan Dr. H. Sumedi, M.Ag dalam bukunya Antologi Pendidikan Islam membagi tujuan
penyampaian kisah Al-Qur’an dalam tiga kategori, yaitu
a) Tujuan informatif,
yakni member informasi tentang keberadaan kisah yang diceritakan menyangkut
tokoh, tempat atau peristiwa yang terjadi. Misalnya bagaimana kisah tokoh
Ashhabul Kahfi, Kisah kota Iram, peristiwa hancurnya kaum Sodom dan sebagainya.
b) Tujuan justifikatif-korektif,
yakni membenarkan kisah-kisah yang pernah diceritakan dalam kitab-kitab
sebelumnya, seperti Taurat dan Injil namun, sekaligus mengoreksi kesalahannya.
Misalnya koreksi Al-Qur’an terhadap posisi Nabi Isa a.s. yang dianggap sebagai
anak Tuhan oleh kaum Nasrani, dan juga Uzair yang dianggap anak Tuhan oleh kaum
Yahudi
c) Tujuan edukatif,
yakni bahwa kisah-kisah Al-Qur’an membawa pesan-pesan moral dan nilai-nilai
pendidikan yang sangat berguna bagi pembaca dan pendengar kisah tersebut untuk
dijadikan ‘ibrah (pelajaran).
1. Tujuan
Pendidikan Dalam Perspektif Hadist
Tujuan pendidikan menurut hadis Nabi SAW merupakan
penegasan dan bentuk penguatan tujuan tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an,
yakni membentuk dan membina manusia secara pribadi dan kelompok agar mampu menunaikan
fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya yang merupakan tujuan penciptaan
manusia.
Tujuan pendidikan dalam hadis Nabi SAW masih terlalu
umum dan memerlukan penjabaran ke dalam tujuan-tujuan khusus yang berbasis pada
fitrah manusia dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu:
a)
Aspek jasmani
Tujuan
pendidikan tidak akan tercapai jika kondisi kesehatan jasmani peserta didik
tidak sehat. Bahkan semua aspek ibadah ritual ini dalam Islampun memerlukan
aspek kesehatan jasmani ini. Pendidikan aspek jasmani ini bertujuan agar
peserta didik bisa menjadi terampil, sehat, dan enerjik sehingga dapat
merealisasikan tujuan-tujuan kehidupan yang sesuai dengan konsep Islam
b)
Pendidikan dan pembinaan aspek akal
Al-Razi
menyatakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai daya fikir yang sama besar,
dan perbedaan kemampuan berfikir antara manusia satu dengan lainnya timbul
karena perbedaan pendidikan dan suasana perkembangannya. Produk pendidikan dan
pembinaan akal ini akan menghasilkan ilmu pengetahuan, dan ahli dalam pemakaian
perbendaharaan ilmu pengetahuan
c)
Pendidikan dan pembinaan aspek jiwa
Jiwa
yang ada dalam diri manusia merupakan kekuatan batin dan juga faktor internal
yang menggerakan manusia dalam perbuatan luhur. Produk pembinaan aspek ini menghasilkan
kesucian, kejujuran, keindahan, dan etika.
2.
Al-Jamali berpendapat bahwa tujuan
pendidikan adalah:
a)
Agar seseorang mengenal statusnya si
antara makhluk dan tanggung jawab masing-masing individu di dalam hidup mereka
di dunia.
b)
Agar seseorang mengenal interaksinya
dalam masyarakat dan tanggung jwab mereka di tengah-tengah sistem
kemasyarakatan.
c)
Supaya manusia kenal dengan alam semesta
dan membimbingnya untuk mencapai hikmah Allah dalam menciptakan alam semesta
dan memungkinkan manusia untuk menggunakannya.
d)
Supaya manusia kenal akan Tuhan Pencipta
ala ini dan mendorongnya untuk beribadah kepada-Nya.
3. Muhammad
Atiyah al-Arbasyi merinci tujuan pendidikan itu sebagai berikut:
a)
Untuk membantu pembentukan akhlak yang
mulia.
b)
Sebagai persiapan untuk kehidupan dunia
dan kehidupan akhirat.
c)
Sebagai persiapan untuk mencari rezeki
dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidik-pendidik muslim memandang
bahwa kesempurnaan manusia tidak akan tercapai kecuali dengan memadukan antara
aga dan ilmu pengetahuan, atau menaruh perhatian pada segi-segi spiritual, akhlak
dan segi-segi kemanfaatan.
d)
Menyiapkan peserta didik dari segi
professional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat menguasai profesi, tekni
dan perusahaan tertentu, suapaya ia dapat mencari rezeki dalam hidup dan hidup
dengan mulia selain memelihara segi kerohanian dan agama.
Tujuan pendidikan,
sebagai komponen pertama dari kurikulum adalah sesuatu yang akan dicapai oleh
peserta didik melalui proses pendidikan. Menurut Rahman ada dua istilah tujuan
pendidikan yaitu:
a)
Tujuan
khusus
Tujuan khusus yaitu untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa
sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada
keseluruhan pribadi yang kritis dan kreatif
b)
Tujuan
umum
Tujuan umum yaitu memungkinkan manusia memanfaatkan sumber-sumber alam
untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan
keraturan dunia.
Tujuan
pendidikan Islam merupakan arah
yang selalu diusahakan oleh pendidik agar tercapai. Tujuan ini sangat penting
artinya karena pada hakikatnya tujuan itu berfungsi sebagai pengakhir dan
pengarah usaha, merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih
tinggi dan memmberi nilai pada usaha-usaha tersebut. Pada prinsipnya tujuan
pendidikan suatu komunitas atau bangsa biasanya bersumber dari filsafat hidup
dan kepercayaan yang dianut oleh suatu bangsa. Karena kenyataannya bahwa
pendidikan pada hakikatnya merupakan hasil filsafat dan kepercayaan suatu
bangsa. Demikian juga menentukan tujuan pendidikan islam tentu sangat dipengaruhi
oleh akidah umat islam itu sendiri dan sumber ajarannya yakni alquran dan
sunnah. Untuk itu setiap usaha menentukan kebijakan apapun dalam pendidikan
islam harus selalu berangkat dari sumber utamanya.
E.
Kerangka
dasar penyusunan kurikulum pendidikan Islam
Kurikulum yang baik dan relefan
dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat intergrated
dan komperensif serta menjadikan al-quran dan hadits sebagai sumber utama dalam
penyusunannya.
Di dalam al-quran dan hadits
ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman oprasional dalam
penyusunan dan pengembangan kurikulaum pendidikan Islam. Kerangka dasar
tersebut adalah tauhid dan perintah membaca.
1. Tauhid
Tauhid sebagai kerangka utama kurikulum harus dimantabkan
semenjak masih bayi dimulai dengan memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid
seperti azan atau ikomah terhadap anak yang baru dilahirkan.
Bila dianalisis materi azan yang akan dikumandangkan adalah
materi pendidikan Islam yang paling awal yang akan diberikan oleh seorang anak
dalam trasformasi dan internalisasi nilai dalam pendidikan Islam, agar anak
senantiasa terbimbing kesuasana yang selaras dengan hakikat penciptanya sebagai
pengabdi kepada Allah. Tauhid sebagai falsafah dan pandangan hidup umat Islam
meliputi konsep keMaha Esaan Allah, serta keunikan Allah atas semua mahluk-Nya,
Allah swt, unik dan Esa dalam dan perbuatan. Tauhid merupakan prinsip utama
dalam sebuah dimensi kehidupan manusia baik hubungan fertikal dengan Allah
maupun hubungan horizontal dengan manusia dengan alam. Tauhid yang seperti
inilah yang dapat menyusun pergaulan yang harmonis sesamanya.
Menurut Muhammad Fazlul Rahman Anshari, tauhid sebagai
filsafat dan pandangan hidup umat Islam meliputi konsep ketauhidan Allah,
ketauhidan alam semesta, dalam hubungan Allah dengan kosmos, ketauhidan
kehidupan, ketauhidan natural dan supernatural, ketauhidan pengetahuan,
ketauhidan iman dan ratio, ketauhidan kebenaran, ketauhidan agama, ketauhidan
cinta dan hukum, ketauhidan umat, ketauhidan mengenai jenis kelamin laki-laki dan perempuan,
ketauhidan kepribadian manusia, ketauhidan mengenai kebebasan dan diterminisme,
ketauhidan dalam term politik, ketauhidan dalam kehidupan sosial, ketauhidan
negara dan agama, ketauhidan dalam term ekonomi, ketauhidan dalam dasar kebudayaan
dan ketauhidan dalam dasar satu cita satu ideal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan
ketauhidan kita dapat mewujudkan tata dunia yang harmonis kosmos yang penuh
tujuan, persamaan sosial, persamaan kepercayaan, persamaan jenis dan ras,
persamaan dalam segala aktivitas dan kebebasan bahkan seluruh masyarakat dunia
adalah sama yang disebut “ummatan wahidah”
Dengan demikian maka tauhid merupakan prinsip utama dalam
seluruh dimensi kehidupan manusia baik dalam aspek hubungan vertical antara
manusia dengan Tuhan maupun aspek hubungan horizontal antara manusia sesamanya,
dan dengan alam sekitarnya. Tauhid yang seperti inilah yang dapat menyusun per
gaulan manusia secara harmonis sesamanya, dalam rangka menyelamatkan manusia
dan perikemanusiaan dalam rangka pencapaian kehidupan yang sejahtera dan
bahagia duniawi dan ukhrawi, termasuk didalamnya pergaulan dalam proses
pendidikan. Tauhid yang seperti inilah yang dijadikan kerangka dasar kurikulum pendidikan
Islam.
2. Perintah
Menbaca
Kerangka dasar selanjutnya adalah perintah “membaca”
ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat, yaitu:
a. Ayat Allah yang berdasarkan wahyu,
b. Ayat Allah yang ada pada diri
manusia, dan
c. Ayat Allah yang terdapat di alam
semesta di luar diri manusia.
Firman
Allah swt:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي
خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ
(٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”
Ditinjau
dan segi kurikulum, sebenarnya firman Allah SWT itu merupakan bahan pokok
pendidikan yang mencakup seluruh pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia.
Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition),
ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization),
pemikirun (reasoning), daya cipta (creativity). Juga sekaligus
merupakan bahan pendidikan itu sendiri. Mungkin tak ada satu kurikulum
pendidikan di dunia ini yang tidak mencantumkan membaca sebagai materinya,
bahkan umumnya membaca ini terlaksana mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan
Tinggi dengan berbagai variasi. Selanjutnya membaca merupakan alat sistem
perhubungan (communication system) yang merupakan syarat mutlak
terwujudnya dan berkelanjutan suatu sistem sosial (sosial system).
Tidaklah
berlebihan jika perkataan membaca yang dikembangkan dari wahyu pertama ini
memiliki pengertian yang demikian lengkapnya sebagai sesuatu sivilisasi
Kelima
ayat tersebut pada dasarnya telah mencakup kerangka kurikulum pendidikan Islam,
yang jika di jabarkan sebagai berikut:
(1) “Bacalah! Dangan menyebut nama
Tuhanmu yang menciptakan”. Tekanan yang terkandung dalam ayat ini adalah
kemampuan membaca yang dihubungkan dengan nama Tuhan sebagai pencipta. Hal ini
erat hubungannya dengan ilmu naqli (perenial knowledge).
(2) Dia menciptakan manusia dari
segumpal darah. Ayat tersebut mendorong manusia untuk mengintrofeksi,
menyelidiki tentang dirinya dimulai dari proses kejadian dirinya. Manusia
ditantang dan diransang untuk mengungkapkan hal itu melalui imaginasi maupun
pengalamannya.
(3) Bacalah, dan tuhanmulah yang paling
pemurah, Yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Motivasi
yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia terdorong untuk mengadakan
eksplorasi alam dan sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya. Ayat
yang pertama kemudia dikembangkan dalam bentuk ilmu-ilmu berhubungan dengan
wahyu Allah yang termuat dalam Al-Qur’an. Ayat kedua dikembangkan mengenai
hal-hal yang berhubungan dengan diri manusia sebagai makhlik ciptaan Tuhan, dan
ayat yang ketiga berhubungan dengan alam sekitarnya, berkaitan dengan amal.
Ketiga macam ayat Allah tersebut jiwanya adalah “tauhid”. Disinilah letak
kurikulum pendidikan Islam, sebab menurut Islam semua pengetahuan dating dari
Tuahan, tetapi cara penyampaiannya ada yang langsung dari Tuhan dan ada yang
melalui pemikiran manusia dan pengalaman indera yang berbeda satu sama lain.
F. Klasifikasi
Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Para ahli pikir muslim
telah banyak memberikan pandangannya trtang apa saja yang harus diketahui dan
dipelajari oleh mnusia selaku hamba Allah, selaku anggota masyarakat dan selaku
pribadi berakhlak susila.
1.
Al-Ghazali
membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga kelompok ilmu, yaitu:
a. Ilmu
yang tercela banyak atau sedikit. Ilmu ini tak ada manfaatya bagi manusia di
dunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir nujum dan perdukunan. Nilai ilmu
ini dipelajari akan membawa mudharat dan akan meragukan kebenaran akan adanya
Allah. Oleh karena itu jauhilah ilmu tersebut.
b. Ilmu
yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya ilmu tauhid, ilmu agam. Ilmu ini
bila dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan
dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
c. Ilmu
yang terpuji pada taraf tertentui yang tidak boleh dial;ami, karena ilmu ini
dapat membawa kepada kegoncangan iman, misalnya ilmu filsafat.
Dari segi ilmu kelompok
tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua kelompok dilihat dari
kepentingnnya yaitu:
a.
Ilmu yang Fardhu
(wajib)’ain yaitu ilmu untuk diketahui semua orang
muslim yaityu ilmu agama, ilmu yang
bersumberkan kitab suci Allah.
b.
Ilmu
yang fardhu kifayuah untuk dipelajari oleh sebagian muslim. Ilmu ini adalah
ilmu yang dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, misalnya ilmu
hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.
Al-Ghazali
mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai
berikut:
a.
Ilmu-ilmu
fardhu ‘ain yaitu Al-Qur’an dan ilmu agama seperti fiqh, hadits dan tafsir.
b.
Sekumpulan
bahasa, nahwu dan makhraj serta khafadh-khafadhnya, karena ilmu ini berfungsi
membantu ilmu-ilmu agama.
c.
Ilmu-ilmu
yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi yang berneka
macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.
2.
Ibnu
Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam yaitu:
a. Ilmu nlisan (bahasa) yaitu bilmu
lughah, nahwu, bayan dan sastra (adsab) atau bahasa yang tersusun secara puitis
(syair).
b. Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil
dari kitab suci atau sinnah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci Al-Qur’an
dan tafsirnya sanad hadits. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui
hokum-hukum Allahj yang diwajibkn atas manusia. Dari Al-Qur’an itulah akan
didapati ilmu-ilmu tafsir, ilomu hadits, ilmu ushul fiqih yang dapat dipakai
untuk menganalisa hokum-huum Allah itu melalui cara istinbath.
c. Ilmu aqli yaitu ilmu yang dapat
mnunjukkan manusia mempergunakan daya piker atau kecerdasannya kepada filsafat
dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk dala kategori ilmu ini adalah ilmu mantiq
(logis), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, hitung dan tingkah laku
manusia. Termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Tentang ilmu
nujum Ibnu Khaldun menganggapnya sebagai ilmu fasid, karena ilmu ini
dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar
perbintangan. Hal itu merupakan sesuatu yang bathil berlawanan dangan ilmu
tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.
Dari segi
kepentingan untuk para pelajar, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi:
a.
Ilmu
seni dengan semua jenisnya.
b.
Ilmu
filsafat seperti ilmu alam dan ketuhanan.
c.
Ilmu
alat yang membantu agama seperti ilmu lughah, nahwu dan sebagainya.
d.
Ilmu
alat yang membantu ilmu falasafah seperti ilmu mantiq (logis).
3.
Dr.
Abdurrahman Saleh Abdullah, mengkategorikan pengetahuan yang menjadi materi
kurikulum pendidikan Islam kepada tiga kategori:
a. Kategori pertama adalah materi
pelajaran yang dikaitkan dengan Al-Qur’an dan Hadits, atau biasa dikenal dengan
isltilah materi pelajaran agama.
b. Kategori kedua dalam bidang
ilmupengetahuan yang termasuk dalam isi kurikulum pendidikan Islam adalah
ilmu-ilmu tentang kemanusiaan (al-Insaniyyah), kategori ini meliputi
bidang-bidang psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain.
c. Kategori ketiga yaitu ilmu-ilmu
kealaman (Al-Ulum Al-Kawniyah), termasuk dalam kategori ini biologi,
fisika,botani, astronomi dan lain-lain.
A.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Secara terminologis istilah kurikulum (dalam
pendidikan) adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau
diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah. Tujuan pendidikan
yang ingin dicapai itulah yang menentukan kurikulum dan isi pendidikan yang
diberikan. Selain itu tujuan pendidikan dapat mempengaruhi stategi pemilihan
teknik penyajian pendidikan yang dipergunakan untuk memberikan pengalaman
belajar pada anak didik dalam mencapai tujuanpendidikan yang sudah
dirumuskan. Dengan kurikulum dan isi
pendidikan inilah kegiatan pendidikan itu dapat dilaksanakan secara benar
seperti apa yang telah dirumuskan.
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam,
maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk
membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui
akumulasi sejumlah pengetahuan,keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses
pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan,
tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna ( insan kamil
) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan
Islam
B.
Saran
Di dalam makalah
ini, mungkin banyak sekali terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan ataupun pengertian. Oleh karena itu, penulis memohon maaf dan meminta saran dan kritikan
yang sifatnya membangun, agar dapat menjadi perbaikan bagi penulis untuk penulisan makalah-makalah selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
3.
Prof. DR. H. Ramayulis.1994.Ilmu
Pendidikan Islam.Padang:Kalam Mulia halaman 127-148
4.
Dra. Zuhairini.1994.Sejarah Pendidikan
Islam.Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam:Departemen Agama
halaman 209-224