Selasa, 24 Maret 2015

TIPS MEMBENTUK PRIBADI YANG MENARIK (^_^)


   Pribadi yang menarik adalah investasi tak ternilai dalam hidup. Dengan membentuk kepribadian kita menjadi hal yang sangat disukai orang lain adalah harta sosial dan kekal. Dalam Islam ada yang namanya akhlak. Silakan blogger simak 10 Tips Membentuk Pribadi yang satu ini (^_^)

Tips Membentuk Pribadi Yang Menarik
Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.
1. ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.
2. BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.
3. JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.
4. USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.
5. BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.
6. BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.
7. HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.
8. BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman.
9. PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.
10. CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.

Sumber : http://ronywijaya.com/10-tips-membentuk-pribadi-yang-menarik/

Makalah Kurikulum Pendidikan Pendidikan Islam


MAKALAH
SEJARAH DAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM

“KURIKULUM PENDIDIKAN ISLAM”

KELOMPOK VI
ANGGOTA KELOMPOK :

1.       Amirul Mukminin
2.       Chusnul Khotimah
3.       Imam Muslimin
4.       Melisa Wahyu Hidayati
5.       Muhammad Ridwan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM DIPONEGORO TULUNGAGUNG
TAHUN 2015


KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul Kurikulum Pendidikan Islam tepat waktu.
Dalam penyelesaian Makalah ini, penulis banyak mendapatkan dorongan serta bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Drs. H. Imam Asy’ari selaku Dosen mata kuliah Sejarah dan Ilmu Pendidikan Islam
2.      Semua pihak yang mendukung dan membantu penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Tak ada gading yang tak retak sama halnya seperti makalah yang telah kami buat. Oleh karenanya saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan.



DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...........................................................................................   i
Daftar Isi           ...........................................................................................               ii
Bab I                 Pendahuluan

A.    Latar Belakang                                                                                             1
B.     Rumusan Masalah........................................................................................ 2
C.     Tujuan Penulisan.......................................................................................... 2

Bab II                Pembahasan

A.  Konsep Kurikulum Pendidikan..................................................................... 3
B.  Dasar Kurikulum Pendidikan Islam.............................................................. 5
C.  Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam................................................ 6
D.  Kurikulum dan Tujuan Pendidikan............................................................... 7
E.   Kerangka Dasar Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam........................ 11
F.   Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam.................................. 14

Bab III              Penutup

A.    Kesimpulan ................................................................................................ 17
B.     Saran           ................................................................................................ 17
Daftar Pustaka  ................................................................................................ 18



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna, karena manusia dianugerahi fitrah, akal, qalb, dan nafs sehingga dengan semua anugerah itu manusia memiliki kemampuan untuk mengaktualisasikan potensi dirinya dalam mencapai kesempurnaan sebagai khalifah di bumi. Untuk mencapai kesempurnaan ini, manusia harus melalui suatu proses atau kegiatan ilmiah yang disebut dengan pendidikan. Pendidikan Islam yang berfalsafahkan al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utamanya, menjadikan keduanya sebagai sumber utama pula dalam penyususunan kurikulum.
Dalam pendidikan Islam kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Salah satu tugas dari filsafat pendidikan Islam adalah memberikan arah bagi tercapainya tujuan pendidikan Islam. Tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai harus direncanakan melalui kurikulum pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan pada lembaga pendidikan Islam. Dengan demikian, akan menjadi jelas dan terencana bagaimana dan apa yang harus diterapkan dalam proses belajar-mengajar yang dilakukan pendidik dan anak didik.
Dalam kurikulum, tidak hanya dijabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik (guru) kepada anak didik, tetapi juga segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam.
Di samping itu, kurikulum hendaknya dapat dijadikan ukuran kualitas proses dan keluaran pendidikan sehingga dalam kurikulum sekolah telah tergambar berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilainilai yang diharapkan dimiliki oleh setiap lulusan sekolah.            Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.
Berdasarkan uraian di atas, fokus pembahasan dalam tulisan makalah ialah Kurikulum Pendidikan Islam.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penyusun merumuskan rumusan masalah sebagai berikut
1.      Apa pengertian dari Konsep Kurikulum Pendidikan?
2.      Bagaimana Dasar Kurikulum Pendidikan Islam?
3.      Bagaimana Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam?
4.      Bagaimana Kurikulum dan Tujuan Pendidikan    ?
5.      Bagaimana Kerangka Dasar Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam?
6.      Bagaimana Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam?

C.    Tujuan Penulisan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan
1.      Pengertian dari Konsep Kurikulum Pendidikan
2.      Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
3.      Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
4.      Kurikulum dan Tujuan Pendidikan
5.      Kerangka Dasar Penyusunan Kurikulum Pendidikan Islam
6.      Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Konsep Kurikulum Pendidikan
Secara etimologis, istilah kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya “pelari” dan curene yang berarti “tempat berpacu”. Istilah kurikulum berasal dari dunia olahraga, terutama dalam bidang atletik pada zaman Romawi Kuno di Yunani. Dalam bahasa Prancis, istilah kurikulum berasal dari kata courier yang berarti berlari (to run). Kurikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Jarak yang harus di tempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Program tersebut berisi mata pelajaran (courses) yang harus ditempuh oleh peserta didik selama kurun waktu tertentu, seperti SD/MI (enam tahun), SMP/MTs (tiga tahun). SMA/MA (tiga tahun) dan seterusnya.
Secara terminologis istilah kurikulum (dalam pendidikan) adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai itulah yang menentukan kurikulum dan isi pendidikan yang diberikan. Selain itu tujuan pendidikan dapat mempengaruhi stategi pemilihan teknik penyajian pendidikan yang dipergunakan untuk memberikan pengalaman belajar pada anak didik dalam mencapai tujuanpendidikan yang sudah dirumuskan.  Dengan kurikulum dan isi pendidikan inilah kegiatan pendidikan itu dapat dilaksanakan secara benar seperti apa yang telah dirumuskan.
J.G Sailor (1981), merangkum beberapa batasan mengenai pengertian kurikulum berdasarkan pengertian beberapa ahli diantaranya Menurut Lewis dan Meil, kurikulum adalah seperangkat bahan pelajaran, rumusan hasil belajar, penyediaan kesempatan belajar, kewajiaban dan pengalaman peserta didik. Taba berpendapat bahwa kurikulum tidak peduli bagaimana rancanagan detailnya dan terdiri atas unsur-unsur tertentu, Ia memberi petunjuk tentang beberapa pilihan dan susunan isinya. Akibatnya ia memerlukan suatu program pengevaluasian hasil-hasilnya. Menurut Stratemayer Sc, kurikulum dianggap sebagai hal yang meliputi bahan pelajaran dan kegiatan kelas yang dilakukan anak dan pemuda keseluruhan pengalaman di dalam dan di luar sekolah atau kelas yang disponsori oleh sekolah, dan seluruh pengalaman hidup murid. Adapun batasan yang diterima pendidikan harus menetapkan ke arah ilmu pengetahuan, pengertian-pengertian, kecakapan-kecakapan yang manakah pengalaman-pengalaman yang baru akan dibimbing. Kebijakan ini menentukan scope dari kurikulum sekolah.
Kurikulum dalam pendidikan Islam, dikenal dengan manhaj yang bermakna jalan yang terang atau jalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Kurikulum pendidikan Islam dari segi bahasa bermakna jalan yang terang yang dilalui seseorang, baik orang itu guru atau juru latih, atau ayah atau yang lainnya, meliputi semua unsur-unsur proses pendidikan dan semua unsur-unsur rencana pendidikan yang di ikuti oleh guru, atau pendidik, atau institusi pendidikan dalam mengajar dan mendidik murid-muridnya, meliputi tujuan-tujuan pendidikan, perkara-perkara kajian, kemestian-kemestian pelajaran dan semua kegiatan dan alat-alat yang menguatkannya, metode-metode yang digunakan dalam mengajarkan pelajaran dan melatih murid-murid dan membimbingnya, menjaga peraturan di antara mereka dan pada pergaulan mereka pada umumnya, dan proses-proses dan alat-alat penilaian.
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan,keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna ( insan kamil ) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam kurikulum tidak hanya dijabarkan sebagai serangkain ilmu pengetahuan yang harus di ajarkan oleh pendidik (guru) kepada anak didik dan anak didik mempelajarinya, akan tetapi segala kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang perlu, karena mempunyai pengaruh terhadap anak didik, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan baik yang bersifat islami maupun bersifat umum.


B.     Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Yang menjadi dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan Islam adalah:
1.      Dasar agama
Dasar agama, dalam arti segala system yang ada dalam masyarakat termasuk pendidikan, harus meletakkan dasar falsafah, tujuan dan kurikulumnya pada dasar agama Islam dengan segala aspeknya. Dasar agama ini dalam kurikulum pendidikan Islam jelas harus didasarkan pada Al-Qur’an, As-Sunnah dan sumber-sumber yang bersifat furu’ lainnya.
2.      Dasar falsafah
Dasar ini memberikan pedoman bagi tujuan pendidikan Islam secara filosofis sehingga tujuan, isi dan organisasi kurikulum mengandung suatu kebenaran dan pandangan hidup dalam bentuk nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu kebenaran, baik ditinjau dari segi ontology, epistimilogi, maupun axiologi.
3.      Dasar psikologis
Dasar ini memberikan landasan dalam perumusan kurikulum yang sejalan dengan ciri-ciri perkembangan psikis peserta didik, sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya, memperhatikan kecakapan pemikiran dan perbedaan perseorangan antara satu peserta didik dengan lainnya.
4.      Dasar social
Dasar ini memberikan gambaran bagi kurikulum pendidikan Islam yang tercermin pada dasar social yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dan kebudayaannya. Baik dari segi pengetahun, nilai-nilai ideal, cara berfikir dan adat kebiasaan, seni dan sebagainya. Sebab tidak ada suatu masyarakat yang tidak berbudaya dan tidak ada suatu kebudayaan yang tidak berada pada masyarakat. Kaitannya dengan kurikulum pendidikan Islam sudah tentu kurikulum ini harus mengakar pada masyarakat dan perubahan dan perkembangan.
5.      Dasar organisatoris
Dasar ini memberikan landasan dalam penyusunan bahan pembelajaran beserta penyajiannya dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan dasar di atas, maka penyusunan sebuah kurikulum pendidikan Islam harus berdasarkan dasar-dasar di atas: dasar religius memberikan nilai terhadap semua materi yang ada dalam kurikulum. Dasar filosofis berperan sebagai penentu tujuan umum pendidikan. Sedangkan dasar sosiologis berperan memberikan dasar untuk menentukan apa saja yang akan di pelajari sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebudayaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara dasar organisator berfungsi memberikan dasar-dasar dalam bentuk bagimana bahan pelajaran itu disusun, dan bagaimana penentu luas dan urutan mata pelajaran. Selanjutnya dasar psikologis berperan memberikan berbagai prinsip-prinsip tentang perkembangan peserta didik dalam berbagai aspeknya, serta cara menyampaikan bahan pelajaran agar dapat dicerna dan dikuasai oleh peserta didik sesuai dengan tahap perkembangannya.

C.     Prinsip-prinsip Kurikulum Pendidikan Islam
Prinsip-prinsip tersebut berbeda-beda menurut analisis para ahli. Dalam merumuskan kurikulum pendidikan Islam penulis ambil pemikiran para ahli tersebut kemudian ditambah dan disesuaikan dengan esensi kurikulum pendidikan Islam. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip berasaskan Islam termasuk ajaran dan nilai-nilainya. Maka setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan-tujuan, kandungan-kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus berdasarkan pada agama dan akhlak Islam.
2.      Prinsip mengarah pada tujuan adalah seluruh aktivitas dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan dan dirumuskan sebelumnya.
3.      Prinsip (integritas) antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang terkandung di dalam kurikulum, begitu pula dengan pertautan antara kandungan kandungan kurikulum dengan kebutuhan murid juga kebutuhan masyarakat.
4.      Prinsip relevansi adalah adanya kesesuaian pendidikan dengan lingkungan hidup murid, relevansi dangan kehidupan masa sekarang dan akan dating, relevansi dengan tuntutan pekerjaan.
5.      Prinsip Fleksibilitas adalah terdapat ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak, baik yang berorientasi pada Fleksibelitas pemilihan program pendidikan maupun dalam mengembangkan program pengajaran.
6.      Prinsip Integritas adalah kirikulum tersebut dapat menghasilkan manusia seutuhnya, manusia yang mampu mengintegrasikan antara fakultas dzikir dan fakultas fikir, serta manusia yang dapat menyelaraskan struktur kehidupan dunia dan struktur kehidupan akhirat.
7.      Prinsip efisiensi adalah agar kurikulum dapat mendayagunakan waktu, tenaga, dana dan sumber lain secara cermat tepat, memadai dan dapat memenuhi harapan.
8.      Prinsip kontinuitas dan kemitraan adalah bagaimana susunan kurikulum yang terdiri dari bagian yang berkelanjutan dengan kaitan-kaitan kurikulum lainnya, baik secara vertical (perjenjangan, tahapan) maupun secara horizontal.
9.      Prinsip Individualitas adalah bagaimana kurikulum memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan anak pada umumnya yang meliputi seluruh aspek pribadi anak didik, seperti perbedaan jasmani, watak intelijensi, bakat serta kelebihan dan kekurangannya.
10.  Prinsip kesamaan memperoleh kesempatan, dan demokratis adalah bagaimana kurikulum dapat memperdayakan semua peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap sangat diutamakan. Seluruh peserta didik/santri dari berbagai kelompok seperti kelompok yan kurang beruntung secara ekonomi dan social yang memerlukan bantuan khusus, berbakat dan unggul berhak menerima pendidikan yang tepet sesuai dengan kemampuan dan kecepatannya.
11.  Prinsip kedinamisan adalah agar kurikulum itu tidak statis, tetapi dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan social
12.  Prinsip keseimbangan adalah bagaimana kurikulum dapat mengembangkan sikap potensi peserta didik secara harmonis
13.  Prinsip efektivitas adalah agar kurikulum dapat menunjang efektivitas guru yang mengajar dan peserta didik yang mengajar.

D.    Kurikullum dan Tujuan Pendidikan
Dalam Al-Qur’an terdapat bermacam-macam kisah yang berdasarkan tokohnya bisa dikategorikan sebagai berikut : Pertama, kisah para rasul dan nabi menyangkut dakwah mereka kepada kaumnya, mukjizat-mukjizat yang terjadi serta sikap para penentang kisah-kisah yang berkaitan. Kedua, kisah-kisah yang berkaitan dengan umat yang terdahulu yang tidak dapat dipastikan kenabiannya, seperti kisah Thalut, Jalut, dua putranya dan Ashabul Kahfi, dan sebagainya. Ketiga, kisah yang berkaitan dengan perstiwa yang terjadi di zaman Nabi seperti perang Badar, Uhud, Hunain dan sebagainya.
Penuturan kisah-kisah tersebut dalam Al-Qur’an bukan sekedar untuk dihafal, namun penyampaian tersebut terkait dengan bagaimana metode menyampaikan sinar petunjuknya. Dalam Al-Qur’an terdapat dua metode yang ditempuh untuk menyampaikan petunjuk di dalamnya. Pertama, direct method / thariqah yakni metode langsung dalam bentuk perintah dan larangan. Kedua, mubasyirah indirect method / thariqah ghair mubasyirah, yakni metode tidak langsung, diantaranya dengan melalui kisah, matsal (perumpamaan) dan ta’ridl (sindiran).
Prof. Dr. H. Nizar Ali, M.Ag dan Dr. H. Sumedi, M.Ag dalam bukunya Antologi Pendidikan Islam membagi tujuan penyampaian kisah Al-Qur’an dalam tiga kategori, yaitu
a)      Tujuan informatif, yakni member informasi tentang keberadaan kisah yang diceritakan menyangkut tokoh, tempat atau peristiwa yang terjadi. Misalnya bagaimana kisah tokoh Ashhabul Kahfi, Kisah kota Iram, peristiwa hancurnya kaum Sodom dan sebagainya.
b)      Tujuan justifikatif-korektif, yakni membenarkan kisah-kisah yang pernah diceritakan dalam kitab-kitab sebelumnya, seperti Taurat dan Injil namun, sekaligus mengoreksi kesalahannya. Misalnya koreksi Al-Qur’an terhadap posisi Nabi Isa a.s. yang dianggap sebagai anak Tuhan oleh kaum Nasrani, dan juga Uzair yang dianggap anak Tuhan oleh kaum Yahudi
c)      Tujuan edukatif, yakni bahwa kisah-kisah Al-Qur’an membawa pesan-pesan moral dan nilai-nilai pendidikan yang sangat berguna bagi pembaca dan pendengar kisah tersebut untuk dijadikan ‘ibrah (pelajaran).
1.      Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Hadist
Tujuan pendidikan menurut hadis Nabi SAW merupakan penegasan dan bentuk penguatan tujuan tujuan pendidikan menurut Al-Qur’an, yakni membentuk dan membina manusia secara pribadi dan kelompok agar mampu menunaikan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya yang merupakan tujuan penciptaan manusia.
Tujuan pendidikan dalam hadis Nabi SAW masih terlalu umum dan memerlukan penjabaran ke dalam tujuan-tujuan khusus yang berbasis pada fitrah manusia dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu:
a)             Aspek jasmani
Tujuan pendidikan tidak akan tercapai jika kondisi kesehatan jasmani peserta didik tidak sehat. Bahkan semua aspek ibadah ritual ini dalam Islampun memerlukan aspek kesehatan jasmani ini. Pendidikan aspek jasmani ini bertujuan agar peserta didik bisa menjadi terampil, sehat, dan enerjik sehingga dapat merealisasikan tujuan-tujuan kehidupan yang sesuai dengan konsep Islam
b)            Pendidikan dan pembinaan aspek akal
Al-Razi menyatakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai daya fikir yang sama besar, dan perbedaan kemampuan berfikir antara manusia satu dengan lainnya timbul karena perbedaan pendidikan dan suasana perkembangannya. Produk pendidikan dan pembinaan akal ini akan menghasilkan ilmu pengetahuan, dan ahli dalam pemakaian perbendaharaan ilmu pengetahuan
c)             Pendidikan dan pembinaan aspek jiwa
Jiwa yang ada dalam diri manusia merupakan kekuatan batin dan juga faktor internal yang menggerakan manusia dalam perbuatan luhur. Produk pembinaan aspek ini menghasilkan kesucian, kejujuran, keindahan, dan etika.
2.      Al-Jamali berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah:
a)      Agar seseorang mengenal statusnya si antara makhluk dan tanggung jawab masing-masing individu di dalam hidup mereka di dunia.
b)      Agar seseorang mengenal interaksinya dalam masyarakat dan tanggung jwab mereka di tengah-tengah sistem kemasyarakatan.
c)      Supaya manusia kenal dengan alam semesta dan membimbingnya untuk mencapai hikmah Allah dalam menciptakan alam semesta dan memungkinkan manusia untuk menggunakannya.
d)     Supaya manusia kenal akan Tuhan Pencipta ala ini dan mendorongnya untuk beribadah kepada-Nya.
3.      Muhammad Atiyah al-Arbasyi merinci tujuan pendidikan itu sebagai berikut:
a)             Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia.
b)            Sebagai persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.
c)             Sebagai persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidik-pendidik muslim memandang bahwa kesempurnaan manusia tidak akan tercapai kecuali dengan memadukan antara aga dan ilmu pengetahuan, atau menaruh perhatian pada segi-segi spiritual, akhlak dan segi-segi kemanfaatan.
d)            Menyiapkan peserta didik dari segi professional, teknis, dan perusahaan supaya ia dapat menguasai profesi, tekni dan perusahaan tertentu, suapaya ia dapat mencari rezeki dalam hidup dan hidup dengan mulia selain memelihara segi kerohanian dan agama.
Tujuan pendidikan, sebagai komponen pertama dari kurikulum adalah sesuatu yang akan dicapai oleh peserta didik melalui proses pendidikan. Menurut Rahman ada dua istilah tujuan pendidikan yaitu:
a)      Tujuan khusus
Tujuan khusus yaitu untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kritis dan kreatif
b)      Tujuan umum
Tujuan umum yaitu memungkinkan manusia memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan, kemajuan, dan keraturan dunia.
Tujuan pendidikan Islam merupakan arah yang selalu diusahakan oleh pendidik agar tercapai. Tujuan ini sangat penting artinya karena pada hakikatnya tujuan itu berfungsi sebagai pengakhir dan pengarah usaha, merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih tinggi dan memmberi nilai pada usaha-usaha tersebut. Pada prinsipnya tujuan pendidikan suatu komunitas atau bangsa biasanya bersumber dari filsafat hidup dan kepercayaan yang dianut oleh suatu bangsa. Karena kenyataannya bahwa pendidikan pada hakikatnya merupakan hasil filsafat dan kepercayaan suatu bangsa. Demikian juga menentukan tujuan pendidikan islam tentu sangat dipengaruhi oleh akidah umat islam itu sendiri dan sumber ajarannya yakni alquran dan sunnah. Untuk itu setiap usaha menentukan kebijakan apapun dalam pendidikan islam harus selalu berangkat dari sumber utamanya.
E.     Kerangka dasar penyusunan kurikulum pendidikan Islam
Kurikulum yang baik dan relefan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan Islam adalah yang bersifat intergrated dan komperensif serta menjadikan al-quran dan hadits sebagai sumber utama dalam penyusunannya.
Di dalam al-quran dan hadits ditemukan kerangka dasar yang dapat dijadikan sebagai pedoman oprasional dalam penyusunan dan pengembangan kurikulaum pendidikan Islam. Kerangka dasar tersebut adalah tauhid dan perintah membaca.
1.      Tauhid
Tauhid sebagai kerangka utama kurikulum harus dimantabkan semenjak masih bayi dimulai dengan memperdengarkan kalimat-kalimat tauhid seperti azan atau ikomah terhadap anak yang baru dilahirkan.
Bila dianalisis materi azan yang akan dikumandangkan adalah materi pendidikan Islam yang paling awal yang akan diberikan oleh seorang anak dalam trasformasi dan internalisasi nilai dalam pendidikan Islam, agar anak senantiasa terbimbing kesuasana yang selaras dengan hakikat penciptanya sebagai pengabdi kepada Allah. Tauhid sebagai falsafah dan pandangan hidup umat Islam meliputi konsep keMaha Esaan Allah, serta keunikan Allah atas semua mahluk-Nya, Allah swt, unik dan Esa dalam dan perbuatan. Tauhid merupakan prinsip utama dalam sebuah dimensi kehidupan manusia baik hubungan fertikal dengan Allah maupun hubungan horizontal dengan manusia dengan alam. Tauhid yang seperti inilah yang dapat menyusun pergaulan yang harmonis sesamanya.
Menurut Muhammad Fazlul Rahman Anshari, tauhid sebagai filsafat dan pandangan hidup umat Islam meliputi konsep ketauhidan Allah, ketauhidan alam semesta, dalam hubungan Allah dengan kosmos, ketauhidan kehidupan, ketauhidan natural dan supernatural, ketauhidan pengetahuan, ketauhidan iman dan ratio, ketauhidan kebenaran, ketauhidan agama, ketauhidan cinta dan hukum, ketauhidan umat, ketauhidan mengenai  jenis kelamin laki-laki dan perempuan, ketauhidan kepribadian manusia, ketauhidan mengenai kebebasan dan diterminisme, ketauhidan dalam term politik, ketauhidan dalam kehidupan sosial, ketauhidan negara dan agama, ketauhidan dalam term ekonomi, ketauhidan dalam dasar kebudayaan dan ketauhidan dalam dasar satu cita satu ideal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dengan ketauhidan kita dapat mewujudkan tata dunia yang harmonis kosmos yang penuh tujuan, persamaan sosial, persamaan kepercayaan, persamaan jenis dan ras, persamaan dalam segala aktivitas dan kebebasan bahkan seluruh masyarakat dunia adalah sama yang disebut “ummatan wahidah
Dengan demikian maka tauhid merupakan prinsip utama dalam seluruh dimensi kehidupan manusia baik dalam aspek hubungan vertical antara manusia dengan Tuhan maupun aspek hubungan horizontal antara manusia sesamanya, dan dengan alam sekitarnya. Tauhid yang seperti inilah yang dapat menyusun per gaulan manusia secara harmonis sesamanya, dalam rangka menyelamatkan manusia dan perikemanusiaan dalam rangka pencapaian kehidupan yang sejahtera dan bahagia duniawi dan ukhrawi, termasuk didalamnya pergaulan dalam proses pendidikan. Tauhid yang seperti inilah yang dijadikan kerangka dasar kurikulum pendidikan Islam.

2.      Perintah Menbaca
Kerangka dasar selanjutnya adalah perintah “membaca” ayat-ayat Allah yang meliputi tiga macam ayat, yaitu:
a.       Ayat Allah yang berdasarkan wahyu,
b.      Ayat Allah yang ada pada diri manusia, dan
c.       Ayat Allah yang terdapat di alam semesta di luar diri manusia.
Firman Allah swt:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ditinjau dan segi kurikulum, sebenarnya firman Allah SWT itu merupakan bahan pokok pendidikan yang mencakup seluruh pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia. Membaca selain melibatkan proses mental yang tinggi, pengenalan (cognition), ingatan (memory), pengamatan (perception), pengucapan (verbalization), pemikirun (reasoning), daya cipta (creativity). Juga sekaligus merupakan bahan pendidikan itu sendiri. Mungkin tak ada satu kurikulum pendidikan di dunia ini yang tidak mencantumkan membaca sebagai materinya, bahkan umumnya membaca ini terlaksana mulai Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi dengan berbagai variasi. Selanjutnya membaca merupakan alat sistem perhubungan (communication system) yang merupakan syarat mutlak terwujudnya dan berkelanjutan suatu sistem sosial (sosial system).
Tidaklah berlebihan jika perkataan membaca yang dikembangkan dari wahyu pertama ini memiliki pengertian yang demikian lengkapnya sebagai sesuatu sivilisasi
Kelima ayat tersebut pada dasarnya telah mencakup kerangka kurikulum pendidikan Islam, yang jika di jabarkan sebagai berikut:
(1)     “Bacalah! Dangan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Tekanan yang terkandung dalam ayat ini adalah kemampuan membaca yang dihubungkan dengan nama Tuhan sebagai pencipta. Hal ini erat hubungannya dengan ilmu naqli (perenial knowledge).
(2)     Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Ayat tersebut mendorong manusia untuk mengintrofeksi, menyelidiki tentang dirinya dimulai dari proses kejadian dirinya. Manusia ditantang dan diransang untuk mengungkapkan hal itu melalui imaginasi maupun pengalamannya.
(3)     Bacalah, dan tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Motivasi yang terkandung dalam ayat ini adalah agar manusia terdorong untuk mengadakan eksplorasi alam dan sekitarnya dengan kemampuan membaca dan menulisnya. Ayat yang pertama kemudia dikembangkan dalam bentuk ilmu-ilmu berhubungan dengan wahyu Allah yang termuat dalam Al-Qur’an. Ayat kedua dikembangkan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan diri manusia sebagai makhlik ciptaan Tuhan, dan ayat yang ketiga berhubungan dengan alam sekitarnya, berkaitan dengan amal. Ketiga macam ayat Allah tersebut jiwanya adalah “tauhid”. Disinilah letak kurikulum pendidikan Islam, sebab menurut Islam semua pengetahuan dating dari Tuahan, tetapi cara penyampaiannya ada yang langsung dari Tuhan dan ada yang melalui pemikiran manusia dan pengalaman indera yang berbeda satu sama lain.

F.      Klasifikasi Ilmu dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Para ahli pikir muslim telah banyak memberikan pandangannya trtang apa saja yang harus diketahui dan dipelajari oleh mnusia selaku hamba Allah, selaku anggota masyarakat dan selaku pribadi berakhlak susila.
1.             Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga kelompok ilmu, yaitu:
a.       Ilmu yang tercela banyak atau sedikit. Ilmu ini tak ada manfaatya bagi manusia di dunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir nujum dan perdukunan. Nilai ilmu ini dipelajari akan membawa mudharat dan akan meragukan kebenaran akan adanya Allah. Oleh karena itu jauhilah ilmu tersebut.
b.      Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya ilmu tauhid, ilmu agam. Ilmu ini bila dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada Allah.
c.       Ilmu yang terpuji pada taraf tertentui yang tidak boleh dial;ami, karena ilmu ini dapat membawa kepada kegoncangan iman, misalnya ilmu filsafat.
Dari segi ilmu kelompok tersebut, Al-Ghazali membagi lagi menjadi dua kelompok dilihat dari kepentingnnya yaitu:
a.         Ilmu yang Fardhu (wajib)’ain yaitu ilmu untuk diketahui semua orang muslim yaityu ilmu agama, ilmu yang bersumberkan kitab suci Allah.
b.        Ilmu yang fardhu kifayuah untuk dipelajari oleh sebagian muslim. Ilmu ini adalah ilmu yang dimanfaatkan untuk memudahkan urusan hidup duniawi, misalnya ilmu hitung (matematika), ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu pertanian dan industri.
Al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:
a.         Ilmu-ilmu fardhu ‘ain yaitu Al-Qur’an dan ilmu agama seperti fiqh, hadits dan tafsir.
b.        Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj serta khafadh-khafadhnya, karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu-ilmu agama.
c.         Ilmu-ilmu yang fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi yang berneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik.

2.             Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi tiga macam yaitu:
a.       Ilmu nlisan (bahasa) yaitu bilmu lughah, nahwu, bayan dan sastra (adsab) atau bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.      Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci atau sinnah Nabi. Ilmu ini berupa membaca kitab suci Al-Qur’an dan tafsirnya sanad hadits. Dengan ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hokum-hukum Allahj yang diwajibkn atas manusia. Dari Al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilomu hadits, ilmu ushul fiqih yang dapat dipakai untuk menganalisa hokum-huum Allah itu melalui cara istinbath.
c.       Ilmu aqli yaitu ilmu yang dapat mnunjukkan manusia mempergunakan daya piker atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk dala kategori ilmu ini adalah ilmu mantiq (logis), ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik, hitung dan tingkah laku manusia. Termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan). Tentang ilmu nujum Ibnu Khaldun menganggapnya sebagai ilmu fasid, karena ilmu ini dipergunakan untuk meramalkan segala kejadian sebelum terjadi atas dasar perbintangan. Hal itu merupakan sesuatu yang bathil berlawanan dangan ilmu tauhid yang menegaskan bahwa tidak ada yang menciptakan kecuali Allah sendiri.


Dari segi kepentingan untuk para pelajar, Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi:
a.                  Ilmu seni dengan semua jenisnya.
b.                  Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ketuhanan.
c.                  Ilmu alat yang membantu agama seperti ilmu lughah, nahwu dan sebagainya.
d.                 Ilmu alat yang membantu ilmu falasafah seperti ilmu mantiq (logis).

3.             Dr. Abdurrahman Saleh Abdullah, mengkategorikan pengetahuan yang menjadi materi kurikulum pendidikan Islam kepada tiga kategori:
a.       Kategori pertama adalah materi pelajaran yang dikaitkan dengan Al-Qur’an dan Hadits, atau biasa dikenal dengan isltilah materi   pelajaran agama.
b.      Kategori kedua dalam bidang ilmupengetahuan yang termasuk dalam isi kurikulum pendidikan Islam adalah ilmu-ilmu tentang kemanusiaan (al-Insaniyyah), kategori ini meliputi bidang-bidang psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain.
c.       Kategori ketiga yaitu ilmu-ilmu kealaman (Al-Ulum Al-Kawniyah), termasuk dalam kategori ini biologi, fisika,botani, astronomi dan lain-lain.


A.     

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Secara terminologis istilah kurikulum (dalam pendidikan) adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan peserta didik di sekolah untuk memperoleh ijazah. Tujuan pendidikan yang ingin dicapai itulah yang menentukan kurikulum dan isi pendidikan yang diberikan. Selain itu tujuan pendidikan dapat mempengaruhi stategi pemilihan teknik penyajian pendidikan yang dipergunakan untuk memberikan pengalaman belajar pada anak didik dalam mencapai tujuanpendidikan yang sudah dirumuskan.  Dengan kurikulum dan isi pendidikan inilah kegiatan pendidikan itu dapat dilaksanakan secara benar seperti apa yang telah dirumuskan.
Jika diaplikasikan dalam kurikulum pendidikan Islam, maka kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang digunakan oleh pendidik untuk membimbing peserta didiknya ke arah tujuan tertinggi pendidikan Islam, melalui akumulasi sejumlah pengetahuan,keterampilan dan sikap. Dalam hal ini proses pendidikan Islam bukanlah suatu proses yang dapat dilakukan secara serampangan, tetapi hendaknya mengacu kepada konseptualisasi manusia paripurna ( insan kamil ) yang strateginya telah tersusun secara sistematis dalam kurikulum pendidikan Islam

B.     Saran
Di dalam makalah ini, mungkin banyak sekali terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan ataupun pengertian. Oleh karena itu, penulis memohon maaf dan meminta saran dan kritikan yang sifatnya membangun, agar dapat menjadi perbaikan bagi penulis untuk penulisan makalah-makalah selanjutnya


DAFTAR PUSTAKA
3.       Prof. DR. H. Ramayulis.1994.Ilmu Pendidikan Islam.Padang:Kalam Mulia halaman 127-148
4.       Dra. Zuhairini.1994.Sejarah Pendidikan Islam.Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam:Departemen Agama halaman 209-224